Yang Perlu Kamu Tahu Dalam Kerjasama Usaha Kuliner - Smartertech

Yang Perlu Kamu Tahu Dalam Kerjasama Usaha Kuliner

Usaha Kuliner

Menjalankan sebuah bisnis terutama bisnis kuliner tentu membutuhkan modal atau dana sebagai pembuka usaha. Namun terkadang, modal menjadi kendala tersendiri bagi yang ingin memulai suatu usaha/bisnis.

Selain bisa didapatkan dengan cara mengajukan pinjaman kepada pihak yang memberikan pinjaman modal usaha atau dengan menggunakan uang hasil tabungan, namun Anda juga bisa memanfaatkan suatu sistem bagi hasil dalam membangun ataupun mengembangkan bisnis yang akan anda kelola.

Salah satu contohnya, Anda ingin membuka usaha kuliner namun terkendala oleh modal, tentunya hal ini akan menjadi salah satu penghambat bisnis Anda. Sementara tabungan yang Anda miliki tidak mencukupi dan Anda juga tidak ingin terlilit hutang karena melakukan pinjaman uang.

Lalu bagaimana solusinya? Nah, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mencari partner usaha untuk diajak kerjasama usaha kuliner dengan Anda. Dengan begitu anda bisa membahas tentang permodalan dan juga sistem pembagian keuntungan dengan partner tersebut.

Kemudian lakukan perjanjian hitam di atas putih untuk setiap syarat dan ketentuan investor dan pembagian hasil penjualan yang telah disepakati bersama, hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sesuatu dan lain hal di kemudian hari.

Sehingga kedua belah pihak tidak merasa dirugikan satu sama lain. Tentunya hal ini akan semakin menegaskan bahwa kerjasama usaha kuliner tersebut benar-benar legal dan dilindungi oleh undang-undang. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak pembahasan berikut.

Cari Partner Usaha Kuliner

Untuk Anda yang memiliki kekurangan modal dan tidak ingin terlibat hutang dengan pihak leasing atau pemberi pinjaman uang (seperti Bank dan lain-lain), ada baiknya mencoba mencari cara lain dengan mencari partner dalam usaha Anda.

Usahakan partner tersebut bersedia menjadi investor pada usaha yang akan Anda bangun. Sehingga Anda akan terbantu dalam segi modal usaha.

BACA JUGA : Ampuh! Ini 8 Cara Mengembangkan Usaha Kuliner

Sebelum anda mencari investor, sebaiknya anda menyiapkan presentasi dan juga proposal yang menjelaskan jenis usaha yang akan dibangun. Buatlah semenarik mungkin dan tentunya dengan perhitungan yang masuk akal dan tidak terkesan berlebihan.

Setelah investor tersebut setuju untuk menjadi partner Anda, maka jangan lupa untuk menyiapkan dokumen-dokumen pendukung yang berisi tentang syarat dan ketentuan yang telah disepakati bersama, yang dilengkapi dengan materai. Dokumen ini digunakan untuk mencegah terjadinya sesuatu dan lain hal dikemudian hari.

Sistem Bagi Hasil Usaha Kuliner

Sistem Bagi Hasil Usaha KulinerSumber: Maxmanroe.com

Setelah mendapatkan kerjasama usaha kuliner dengan partner atau investor, tentunya di dokumen perjanjian akan tertera sistem pembagian keuntungan yang akan nantinya akan diterima oleh kedua belah pihak.

Di dalam kerjasama usaha yang menerapkan bagi hasil, terdapat 3 mitra bisnis yang akan terlibat yang mana pada masing-masing orang akan mendapatkan porsi dari keuntungan yang berbeda-beda.

Pemberi Modal (Investor) dan Rekan Kerja

Sistem bagi hasil pada usaha kecil biasanya akan menemui orang yang memiliki peran ganda sebagai pemberi modal sekaligus rekan kerja. Jika ada orang yang memiliki posisi ini, maka dia akan mendapatkan dua penghasilan.

Penghasilan pertama mendapatkan gaji sebagai rekan kerja aktif yang dibayarkan setiap bulannya, dan yang kedua sebagai investor atau pemberi modal, dia akan mendapatkan dividen.

Dividen merupakan keuntungan bersih, setelah pemotongan berbagai biaya yaitu biaya operasional dan biaya investasi untuk tahun depan. Berbeda dengan gaji, pendapatan dividen biasanya dihitung setiap tahun.

Untuk pembagian dividen, disesuaikan dengan persentase dari modal yang ditanamkan oleh masing-masing investor di awal pendirian bisnis atau usaha.

Pemberi Modal (Investor) dalam Bentuk Saham

Investor jenis ini biasanya tidak ikut serta dalam kepengurusan usaha yang dijalankan. Pembagian hasil yang diperoleh para investor hanya berupa dividen serta tidak berdasarkan pada kepemilikan modal.

Dalam hal ini kedua pihak akan menyetujui syarat dan ketentuan termasuk persentase bagi hasil sesuai kesepakatan bersama. Apakah menggunakan persentase 50:50 atau 40:60 untuk investor (pemilik modal). Di dalam Islam istilah ini dikenal dengan sebutan Mudharabah.

Investor (Pemberi Modal) dalam Bentuk Hutang

Sistem ini hampir sama dengan jenis investor di poin pertama. Perbedaannya adalah investor tersebut memberi modal dalam bentuk hutang.

Karena berbentuk hutang, maka dalam perhitungan akan masuk pokok hutang, bunga serta jatuh tempo pembayaran. berupa hutang, tentu saja dalam perhitungan akan ada pokok hutang, bunga dan juga jatuh tempo.

Investor jenis ini disebut dengan kreditur. Dan perbedaan lainnya dengan investor lain adalah jika usaha mengalami kegagalan, maka keditur tersebut tidak ikut menanggung resiko.

Untuk pembagian keuntungannya yaitu dengan cara membayar pokok hutang dan juga bunga pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Jika pembayaran melewati batas waktu, maka bunga pinjaman juga akan bertambah.

Sebelum memutuskan untuk mengambil langkah dengan menggunakan sistem seperti ini, sebaiknya pikirkan secara matang dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Hal ini sangat penting untuk dilakukan, mengingat setiap keputusan yang akan Anda ambil dapat mempengaruhi usaha yang akan Anda jalankan.

Pilar dari Perjanjian Usaha untuk Sistem Bagi Hasil

Sebelum Anda membuka suatu usaha, sebaiknya  Anda dan juga partner bisnis Anda harus mengetahui pilar atau pokok dari perjanjian usaha untuk sistem bagi hasil. Terdapat 4 pilar yang utama yang harus Anda dan juga partner bisnis Anda ketahui, diantaranya yaitu:

  1. Adanya suatu kerjasama modal, yang mana ada yang mudharabah (investor menyediakan seluruh modal) dan musyarakah (sama-sama menyediakan modal dari kedua belah pihak).
  2. Kegiatan usaha, yaitu kedua belah pihak sama-sama saling memastikan apakah sistem bagi hasil yang tersebut benar-benar dipergunakan untuk usaha yang telah disepakati bersama dalam perjanjian.
  3. Mempunyai batasan waktu dalam pembagian keuntungan bagi pihak-pihak yang terkait.
  4. Adanya kesepakatan dalam pembagian keuntungan yang menerapkan salah satu dari dua prinsip yang ada, yaitu profit sharing (sistem bagi untung) dan revenue sharing (bagi hasil).

Itulah tadi beberapa hal yang penting untuk Anda ketahui dan juga dipersiapkan sebelum Anda memulai kerjasama usaha kuliner dengan menggunakan sistem bagi hasil.

Sistem ini nantinya akan membantu Anda saat akan memulai bisnis, terutama bisnis kuliner. Terlebih lagi jika Anda terkendala oleh dana yang terbatas. Dengan melakukan kerjasama dengan partner bisnis, maka akan menguntungkan kedua belah pihak. Si pemberi modal akan diuntungkan dengan pembagian keuntungan dan si pemilik usaha akan terbantu dalam segi modal usaha.

Leave a Reply